KALTENGSATU, Muara Teweh – Di tengah riuhnya perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi digital, secarik puisi ternyata masih mampu berbicara lantang. Tidak dengan teriakan, melainkan melalui barisan kata yang menyentuh hati dan membangkitkan kesadaran.
Melalui antologi puisi berjudul "Monolog Plastik Kotaku", para remaja Kabupaten Barito Utara menghadirkan suara-suara kecil yang selama ini mungkin luput didengar. Mereka berbicara tentang lingkungan, tentang sampah yang kian menggunung, tentang sungai yang merindukan kejernihannya, dan tentang bumi yang membutuhkan lebih banyak kepedulian.
Bagi Bupati Barito Utara, H. Shalahuddin, karya tersebut bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan cermin yang memperlihatkan wajah bumi saat ini sekaligus harapan masa depan yang dititipkan kepada generasi muda.
“Buku antologi puisi ini bukan sekadar tumpukan kertas dan tinta. Ia adalah cermin besar tempat kita melihat wajah bumi hari ini. Melalui tema lingkungan dan persoalan sampah, anak-anak kita sedang belajar mendengarkan rintih tanah yang terhimpit plastik dan bisikan sungai yang merindukan beningnya,” ujar H. Shalahuddin.
Menurutnya, setiap bait yang ditulis para remaja menjadi bukti bahwa literasi memiliki kekuatan untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap lingkungan.
“Literasi bukan hanya kemampuan membaca dan menulis. Literasi adalah keberanian membaca keadaan dan menuliskan perubahan. Ketika anak-anak muda menulis tentang lingkungan, mereka sedang menjadi penjaga alam melalui aksara. Mereka membuktikan bahwa masalah sampah tidak hanya berakhir di tempat pembuangan, tetapi dapat menjadi pengingat dan penggerak kesadaran bersama,” katanya.
Bupati berharap antologi tersebut menjadi tonggak kebangkitan literasi di Kabupaten Barito Utara dan mendorong semakin banyak generasi muda untuk mencintai dunia tulis-menulis.
“Teruslah membaca dan menulis. Jangan biarkan pena kalian kering. Karena melalui tulisanlah kita menjaga keabadian hutan kita, merawat sungai kita, dan mempertahankan martabat peradaban kita,” pesannya.
Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Barito Utara, Hj. Maya Savitri Shalahuddin, menyampaikan rasa bangga dan harunya terhadap karya yang lahir dari tangan-tangan kreatif generasi muda daerah.
Menurutnya, antologi puisi tersebut memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat tumbuh melalui sastra dan literasi.
“Saya tidak hanya membaca barisan kata tentang sampah dan lingkungan dalam buku ini. Saya mendengar detak jantung generasi muda Barito Utara yang peduli terhadap bumi tempat mereka tumbuh dan berkembang. Karya-karya ini menunjukkan bahwa kegelisahan terhadap alam dapat diubah menjadi pesan yang indah dan menggugah,” ungkap Hj. Maya Savitri Shalahuddin.
Ia juga memberikan apresiasi kepada Komunitas Penulis Barito Utara yang telah membimbing para remaja hingga mampu melahirkan sebuah karya bersama yang bermakna.
“Terima kasih kepada Komunitas Penulis Barito Utara yang telah menjadi lentera bagi para penulis muda. Melalui pendampingan yang penuh kesabaran, ide-ide sederhana mampu tumbuh menjadi karya yang utuh dan bernilai,” ujarnya.
Lebih jauh, Hj. Maya mengajak generasi muda untuk menjadikan menulis sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Menulis bukan hanya aktivitas mengisi waktu luang. Menulis adalah cara membangun karakter, mengekspresikan gagasan, dan meninggalkan jejak kebaikan. Jadikanlah menulis sebagai sahabat dalam perjalanan hidup. Karena melalui tulisan, kalian sedang membangun keabadian,” tuturnya.
Di balik lembar demi lembar puisi dalam "Monolog Plastik Kotaku", tersimpan harapan besar tentang lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kepedulian terhadap lingkungan.
Antologi ini menjadi bukti bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Terkadang, perubahan berawal dari selembar kertas, setetes tinta, dan keberanian seorang anak muda untuk menuliskan isi hatinya tentang bumi yang ia cintai.
Dari Barito Utara, suara-suara itu kini telah menemukan jalannya. Bersuara melalui puisi, mengajak semua orang untuk lebih peduli terhadap lingkungan, sekaligus menegaskan bahwa literasi tetap hidup dan tumbuh di tengah generasi muda Bumi Iya Mulik Bengkang Turan.(kh3)