Indonesia Jum`at, 11-09-2026 Jam 18:53:35
KaltengSatu

ToT Angkatan 41 Menjadi “Dokter Negara” di Lemhannas RI

by Redaksi - Tanggal 10-09-2026,   jam 18:53:35
ToT Angkatan 41 Menjadi “Dokter Negara” di Lemhannas RI KOMPAK - Kelompak D Bhineka Tunggal Ika yang selalu kompak meski dalam perbedaan asal daerah, suku dan agama


JAKARTA – Memasuki hari keempat Training of Trainers (ToT) Angkatan 41 di Lemhannas RI, atmosfer ruangan mendadak beda. Kalau hari-hari pertama dan kedua dahi para peserta sempat mengkerut mirip kerupuk kena kuah soto karena membahas teori-teori berat, kali ini ruang kelas mendadak hangat dan penuh warna.

 

Bagaimana tidak. Kami saling pamer cerita pengalaman daerah masing-masing. Ada peserta yang membawa kisah kelam masa lalu dari wilayah bekas konflik, tapi banyak juga yang cerita hal unik. Dalam satu rumah tangga bisa ada tiga agama dan dua suku berbeda, bahkan ada pasangan suami istri beda keyakinan. Tapi kalau urusan rebutan remot TV saat laga Timnas Indonesia, mereka kompaknya setengah mati hehe.

 

Narasumber kami yang ciamik, Dr. Dra. Neng Dara Affiah, M.Si. adalah Tenaga Profesional Lemhannas RI Bidang Sosial Budaya. Beliau melontarkan satu kalimat yang bikin kami semua langsung tegak dan langsung tepuk tangan menggemuruh. “Bapak dan Ibu sekalian beruntung masuk Lemhannas, karena di sini Anda sedang dididik menjadi ‘Dokter Negara’ untuk urusan ketahanan nasional dan kebhinekaan.”

 

Wah, mendengar kata “dokter”, saya langsung meraba kantong, untung yang dibawa pulpen, bukan stetoskop. Tapi perumpamaan itu pas sekali. Negara kita ini raksasa, kalau “masuk angin” sedikit akibat gesekan isu SARA, dampaknya bisa bikin meriang se-Indonesia.

 

Diskusi pun bergulir ke arah impian besar. Indonesia Emas 2045. Kita tidak bisa bicara mimpi indah tahun 2045 kalau lupa sejarah. “Coba bunda ejawantahkan mimpi itu agar kami disini bisa sama-sama mewujudkannya,” pinta salah satu peserta ToT dari kelompok B. Indonesia pernah melewati masa-masa kelam yang pahit—sebut saja konflik Poso (1998–2000), Maluku (1999–2002), Sambas, hingga peristiwa Sampit pada tahun 2001.

 

Mengingat luka masa lalu bukan untuk membuka korek tua, melainkan sebagai pengingat mahal bagi penerus selanjutnya bahwa konflik itu mahal harganya, dan damai itu indah. Pengalaman pahit itu adalah pelajaran berharga agar kita tidak keledai yang jatuh di lubang yang sama. Kebhinekaan harus terus dirajut, bukan sekadar dijadikan jargon di spanduk jalanan. Apalagi ada diskonnya 50 persen.

 

Dr. Neng Dara Affiah kemudian menyelaraskan akar Kebhinekaan ini dengan ajaran agama. Beliau mengutip QS. Al-Hujurat: 13 dan QS. Ar-Rum: 22. Ringkasnya, Allah sengaja bikin kita berbangsa-bangsa, bersuku-suku, beda bahasa, sampai beda warna kulit—bukan untuk saling sikut, melainkan untuk saling kenal (lita’arafu). Bayangkan kalau seluruh manusia di bumi wajahnya sama semua seperti cetakan pabrik, betapa bingungnya kita mencari suami atau istri yang tertukar di pasar malam!

 

Perbedaan bahasa dan warna kulit itu adalah tanda kebesaran Sang Pencipta bagi orang-orang yang berilmu. Masing-masing agama mengajarkan kemerdekaan dan rasa hormat terhadap sesama manusia.

 

Bhinneka Tunggal Ika yang dulu dipopulerkan oleh Muhammad Yamin sebagai semboyan negara bukanlah produk yang ujug-ujug ada dari langit. Bangsa kita sejak dulu adalah “rest area” kebudayaan dunia. Masuknya lewat jalur perdagangan, Pengaruh Islam, dan Pengaruh barat.

 

Bahkan dari segi bahasa, nenek moyang kita sudah sangat fleksibel. Dulu saat Hindu-Buddha berjaya, bahasa Sansekerta diserap dengan bijak untuk merumuskan hikmah-hikmah universal sama halnya seperti umat Islam yang menyerap keindahan bahasa Arab ketika belajar di pondok Pesantren. “Apakah itu salah, tidak kan,’ timpal Dr. Neng Dara lagi.

 

Kebhinekaan bahasa ini justru memperkaya bahasa Indonesia yang kita pakai untuk berbalas pantun hari ini. “Kalau hanya bahasa Jawa saja yang dipakai, bukan Indonesia namanya. Dengan kekayaan bahasa ini kita disatukan dalam negara Indonesia,” tambah Dr Neng.

 

Satu data menarik yang dipaparkan adalah daftar negara pengelola kebhinekaan terbaik di dunia. Di jajaran atas ada Kanada, Swiss, Singapura, Selandia Baru, Australia, Belgia, dan Indonesia di urutan ke-7

 

Nangkring di peringkat 7 dunia itu keren, tapi tugas kita belum selesai. Mengelola ratusan suku dan ribuan pulau itu beda kelas dibanding mengelola negara yang luasnya cuma seluas satu kabupaten di Indonesia.

 

Untuk menjaga agar posisi kita naik kelas atau minimal tidak merosot, Dr. Neng melempar resep Formula 5K. Kesetaraan, Keadilan, Komunikasi, Kepercayaan dan Kerjasama. (3/bersambung)